Who needs trouble to cook a good food? Not me definitely. Sepanjang hidup ini, saya belum pernah memasak rendang. Bukan nggak doyan, tapi ribetnya itu nggak nahan. Mendingan beli aja deh di restoran padang, dijamin pasti enak. Atau sukur-sukur ada yang mau masakin, itu lebih bagus lagi. Kalau gulai kepala kakap sih masih oke lah aku handle di dapur. Biarpun ada yang jual bumbu rendang yang sudah jadi, tetep aja lah ribet. Enakan beli hehehe.
Hal yang sama juga terjadi pada makanan India. Setelah beberapa kali mencicipi berbagai menu makanan India, dipikir-pikir rasanya mirip. Kalau dipelajari juga rata-rata bumbunya sama, menggunakan garam masala, yang sama sekali bukan jenis garam melainkan adalah kombinasi rempah-rempah. Dalam bahasa Hindi garam berarti panas, dan masala berarti rempah-rempah. Biasanya garam masal terdiri dari: merica hitam, merica putih, cengkeh, daun kari, daging buah pala, kayu manis, jintan hitam, jintan, bunga lawang/pekak, kapulaga hijau dan putih, ketumbar, yang seluruhnya dihaluskan. Di beberapa daerah di India bahkan ada juga yang ditambahkan biji pala dan adas. Nah, kebayang kan ribetnya mencari rempah-rempah itu. Rata-rata rempah-rempah itu memang bisa diperoleh di sini. Tapi teteplah, judulnya ribet.
Namun, pencarian saya di supermarket membuahkan hasil. Bukan bermaksud promosi, tapi memang saya baru menemukan satu merek ini di sini, Asian Home Gourmet. Kayaknya made in Singapore, beli online juga bisa. Sudah dicoba berkali-kali, rasanya nggak jauh beda sama rasa masakan India otentik yang saya rasai di restoran India, yang kokinya asli dari Hyderabad. Bedanya mungkin penyajiannya, kalau di restoran jelas lebih berkelas hehehe. Tapi sejauh ini saya puas pakai bumbu jadi ini. Lagipula bumbu ini mengklaim diri telah 'vegan approved' jadi amanlah untuk dimakan. Berhubung biaya yang dikeluarkan untuk makan di restoran India cukup menguras kocek kalau dilakukan setiap minggu, maka bumbu jadi ini sangat memanjakan kerinduan lidah saya akan cita rasa India. Sekali masak satu bungkus bumbu bisa untuk 3 orang. Murah dan irit!
Sunday, March 20, 2011
Thursday, March 17, 2011
Menikmati Okra dan Bhindi Masala
Apa itu Okra? Pertama kali saya melihat okra adalah di sebuah supermarket waralaba dari Prancis. Lalu karena didera rasa penasaran yang begitu hebat, saya iseng-iseng membelinya. Dalam pikiran saya, okra itu setipe dengan kacang polong, jadi yang dimakan adalah biji kacang di dalam selubungnya. Ternyata ketika saya buka, bijinya begitu kecil-kecil, dan kulitnya berlendir. Ih! Sempat saya masukkan biji okra itu ke dalam masakan yang saya buat. Tapi entahlah, biji itu sepertinya hilang tertimbun bahan-bahan yang lain. Artinya, salah masak la yauw!
Lalu, kali lain saya membaca di sebuah majalah bahwa okra ternyata bisa dibuat sup. Konon di Afrika, okra juga sering dibuat sup. Maka saya pun membelinya lagi. Sampai di rumah, langsung saya potong-potong dan saya buat sup (saya lupa nama supnya). Tapi setelah jadi, sup itu jadi berlendir. Rasanya sih enak (nggak ge-er lho!), tapi lendirnya itu mana tahaaan. Cuma saya yang doyan, karena terpaksa barangkali. Tapi yang lain nggak suka.
Tapi saya tidak menyerah. Okra itu jenis sayuran yang banyak khasiatnya. Selain kaya serat, beberapa sumber menyatakan bahwa biji okra juga mengandung lemak tak jenuh, selain juga kaya klorofil yang di antaranya bersifat antioksidan dan antikanker. Pokoknya banyaklah manfaat sayuran aneh yang konon asalnya memang dari Afrika ini. Suatu kali saya melihat di sebuah acara masak-memasak bahwa di Jepang okra digoreng pakai tepung, dibuat tempura. Maka saya pun kembali membeli okra, dan saya goreng dengan tepung. Tapi ketika digigit, waaksss...alot! Duh, gagal lagi. Mungkin mestinya okra yang masih muda ya? Sedangkan jika membeli di supermarket, biasanya sudah dikemas dengan berat tertentu.
Selama beberapa waktu saya memutuskan untuk tidak masak okra lagi. Capek ah, salah melulu. Tapi, takdir berkata lain. Lagi-lagi saya melihat dalam sebuah program masak-memasak, cara mengolah okra ala India. Akhirnya bulat tekad saya untuk kembali membeli okra, dan memasaknya ala India, Bhindi Masala. Eng...ing...eng...jadi deh! Enak, semua suka dan lahap, hehehe! Lo logro! Berhasil, berhasil!
Cara masaknya gampang. Berhubung saya ini nggak suka ribet, untuk kali ini saya pilih bumbu India instan. Pertama, okra dicuci bersih, iris-iris, lalu goreng sampai keemasan, angkat dan tiriskan di atas tisu tebal untuk menyerap kelebihan minyaknya. Lalu, sesuai petunjuk kemasan, iris bawang bombay dan paprika, tumis, dan masukkan bumbu instan. Aduk-aduk, lalu masukkan okra, kasih air sedikit, aduk-aduk, dan tunggu sampai meresap. Cicipi, tambahkan garam jika masih kurang asin. Lalu selesai deh! Tinggal dihidangkan, pakai nasi bisa, pakai capati bikin sendiri bisa.
Sekarang, saya sudah menemukan cara asyik makan okra. Tentunya Bhindi Masala hanya untuk orang-orang yang menyukai makanan berbumbu dan berempah seperti saya. Kalau suka yang lebih ringan dan plain, mungkin okra tempura bisa jadi pilihan, tapi jujur saja, sampai saat ini saya belum menemukan cara yang tepat agar okranya tidak alot, hehehe.
Lalu, kali lain saya membaca di sebuah majalah bahwa okra ternyata bisa dibuat sup. Konon di Afrika, okra juga sering dibuat sup. Maka saya pun membelinya lagi. Sampai di rumah, langsung saya potong-potong dan saya buat sup (saya lupa nama supnya). Tapi setelah jadi, sup itu jadi berlendir. Rasanya sih enak (nggak ge-er lho!), tapi lendirnya itu mana tahaaan. Cuma saya yang doyan, karena terpaksa barangkali. Tapi yang lain nggak suka.
Tapi saya tidak menyerah. Okra itu jenis sayuran yang banyak khasiatnya. Selain kaya serat, beberapa sumber menyatakan bahwa biji okra juga mengandung lemak tak jenuh, selain juga kaya klorofil yang di antaranya bersifat antioksidan dan antikanker. Pokoknya banyaklah manfaat sayuran aneh yang konon asalnya memang dari Afrika ini. Suatu kali saya melihat di sebuah acara masak-memasak bahwa di Jepang okra digoreng pakai tepung, dibuat tempura. Maka saya pun kembali membeli okra, dan saya goreng dengan tepung. Tapi ketika digigit, waaksss...alot! Duh, gagal lagi. Mungkin mestinya okra yang masih muda ya? Sedangkan jika membeli di supermarket, biasanya sudah dikemas dengan berat tertentu.
Selama beberapa waktu saya memutuskan untuk tidak masak okra lagi. Capek ah, salah melulu. Tapi, takdir berkata lain. Lagi-lagi saya melihat dalam sebuah program masak-memasak, cara mengolah okra ala India. Akhirnya bulat tekad saya untuk kembali membeli okra, dan memasaknya ala India, Bhindi Masala. Eng...ing...eng...jadi deh! Enak, semua suka dan lahap, hehehe! Lo logro! Berhasil, berhasil!
Cara masaknya gampang. Berhubung saya ini nggak suka ribet, untuk kali ini saya pilih bumbu India instan. Pertama, okra dicuci bersih, iris-iris, lalu goreng sampai keemasan, angkat dan tiriskan di atas tisu tebal untuk menyerap kelebihan minyaknya. Lalu, sesuai petunjuk kemasan, iris bawang bombay dan paprika, tumis, dan masukkan bumbu instan. Aduk-aduk, lalu masukkan okra, kasih air sedikit, aduk-aduk, dan tunggu sampai meresap. Cicipi, tambahkan garam jika masih kurang asin. Lalu selesai deh! Tinggal dihidangkan, pakai nasi bisa, pakai capati bikin sendiri bisa.
Sekarang, saya sudah menemukan cara asyik makan okra. Tentunya Bhindi Masala hanya untuk orang-orang yang menyukai makanan berbumbu dan berempah seperti saya. Kalau suka yang lebih ringan dan plain, mungkin okra tempura bisa jadi pilihan, tapi jujur saja, sampai saat ini saya belum menemukan cara yang tepat agar okranya tidak alot, hehehe.
Tuesday, March 8, 2011
Bibimbap Sehat ala Rumahan
Bagi penggemar makanan Korea, mungkin nama Bibimbap sudah tak asing lagi. Itu adalah nasi campur khas Korea. Biasanya disajikan dalam mangkok tembikar yang sudah dipanaskan lebih dulu. Isinya: nasi putih, sayur-sayuran, daging sapi dan telur yang biasanya masih mentah, lalu sambal gochujang khas Korea. Sebelum dimakan, isi mangkok diaduk menjadi satu, sehingga telur dan daging yang semula mentah akan menjadi matang karena bersentuhan dengan mangkok yang panas. Rasanya? Jangan ditanya, bikin ketagihan lidah petualang kuliner.
Itu kalau makannya di restoran Korea. Harganya 1 porsi lumayan mahal, rata-rata 70 ribuan, bisa lebih, dan kaenya nggak mungkin kurang. Porsinya juga lumayan mengenyangkan. Saya malah pernah menghabiskan satu mangkok berdua. Menurut saya, bibimbap itu makanan yang sehat. Komplit. Kayak nasi rames, tapi rasanya lebih rame. Dan ternyata pengolahan gampang, biarpun sedikit membutuhkan kesabaran untuk memilah-milah sayurannya. Sayuran apa aja yang kebetulan ada di rumah bisa dibuat jadi bibimbap. Masaknya tinggal ditumis saja pakai minyak sayur, kasih garam merica sedikit atau saos tiram supaya lebih berasa. Tapi terserah aja sih. Namanya juga ala rumahan. Yang penting konsepnya sehatnya kena.
Untuk mempersiapkan bibimbap, yang utama adalah nasi panas, sayur-mayur, jamur, dan telur. Berhubung saya tidak punya mangkok panas seperti yang digunakan di restoran Korea, maka saya memakai mangkok biasa, dan tidak memakai daging. Pakai daging silakan saja, tapi sudah ditumis terlebih dahulu. Di sini yang yang saya gunakan (karena adanya cuma itu) adalah wortel, toge, daun bawang, lalu jamur dan telur. Pertama, rebus toge sampai setengah matang saja, lalu tiriskan. Setelah itu iris-iris wortel seukuran korek api dan tumis sebentar sampai setengah matang beri garam merica sedikit, angkat dan tiriskan. Lalu jamur diiris-iris dan ditumis dengan sedikit minyak dan bumbui dengan saos tiram, tunggu sampai layu, lalu angkat dan sisihkan. Selanjutnya buat telor mata sapi setengah matang, bumbui dengan sedikit garam dan merica, angkat dan sisihkan. Terakhir, iris-iris daun bawang, sisihkan.
Untuk penyajiannya, masukkan nasi panas ke dalam mangkok, letakkan telur mata di tengahnya dikelilingi bahan-bahan lain yang ditata rapi. Lalu bubuhi dengan gochujang (bisa diperoleh di supermarket yang menjual bahan makanan impor), atau buat bumbu pedas sendiri yang terdiri dari: saos tiram, tauco, cabe bubuk. Nah, setelah itu sebelum disantap tinggal diaduk-aduk.
Itu kalau makannya di restoran Korea. Harganya 1 porsi lumayan mahal, rata-rata 70 ribuan, bisa lebih, dan kaenya nggak mungkin kurang. Porsinya juga lumayan mengenyangkan. Saya malah pernah menghabiskan satu mangkok berdua. Menurut saya, bibimbap itu makanan yang sehat. Komplit. Kayak nasi rames, tapi rasanya lebih rame. Dan ternyata pengolahan gampang, biarpun sedikit membutuhkan kesabaran untuk memilah-milah sayurannya. Sayuran apa aja yang kebetulan ada di rumah bisa dibuat jadi bibimbap. Masaknya tinggal ditumis saja pakai minyak sayur, kasih garam merica sedikit atau saos tiram supaya lebih berasa. Tapi terserah aja sih. Namanya juga ala rumahan. Yang penting konsepnya sehatnya kena.
Untuk mempersiapkan bibimbap, yang utama adalah nasi panas, sayur-mayur, jamur, dan telur. Berhubung saya tidak punya mangkok panas seperti yang digunakan di restoran Korea, maka saya memakai mangkok biasa, dan tidak memakai daging. Pakai daging silakan saja, tapi sudah ditumis terlebih dahulu. Di sini yang yang saya gunakan (karena adanya cuma itu) adalah wortel, toge, daun bawang, lalu jamur dan telur. Pertama, rebus toge sampai setengah matang saja, lalu tiriskan. Setelah itu iris-iris wortel seukuran korek api dan tumis sebentar sampai setengah matang beri garam merica sedikit, angkat dan tiriskan. Lalu jamur diiris-iris dan ditumis dengan sedikit minyak dan bumbui dengan saos tiram, tunggu sampai layu, lalu angkat dan sisihkan. Selanjutnya buat telor mata sapi setengah matang, bumbui dengan sedikit garam dan merica, angkat dan sisihkan. Terakhir, iris-iris daun bawang, sisihkan.
Untuk penyajiannya, masukkan nasi panas ke dalam mangkok, letakkan telur mata di tengahnya dikelilingi bahan-bahan lain yang ditata rapi. Lalu bubuhi dengan gochujang (bisa diperoleh di supermarket yang menjual bahan makanan impor), atau buat bumbu pedas sendiri yang terdiri dari: saos tiram, tauco, cabe bubuk. Nah, setelah itu sebelum disantap tinggal diaduk-aduk.
Sunday, November 14, 2010
Berkenalan dengan Anchovy
Anchovy. Nama yang selalu bikin penasaran. Di Indonesia konon sama dengan ikan teri asin, tapi ada yang bilang beda juga, karena Anchovy itu nama jenis ikan. Selidik punya selidik, Anchovy memang ikan teri atau ikan bilis, masih anggota keluarga Engraulidae, yang panjangnya maksimum 23 cm, tapi yang umum itu 5 cm. Dan anchovy memang biasa diawetkan dengan cara diasinkan.
Begitu banyak resep yang menyertakan anchovy sebagai ingredient atau bahan makanan. Sampai bertanya-tanya, emang kalau ga pake ikan ini rasanya beda ya? Berbulan-bulan saya berburu bahan ini. Tapi hampir tidak ada di supermarket lokal. Bahkan di supermarket yang menjual bahan impor saja tidak ada. Keburu habis. Akhirnya bertemulah saya dengan bahan ini. Tersembunyi di sebuah rak supermarket yang nyaris tak terjamah. Harganya lumayan mahal. Apalagi kalau dibandingkan dengan ikan asin di sini. Bagaikan bumi dan langit.
Maka sesampainya di rumah saya biarkan kaleng anchovy itu tergeletak di rak. Bingung, mau dimasak apa ya? Di dalam kaleng itu, ikan anchovy direndam minyak zaitung. Iseng-iseng saya coba cicipi. Alamak... asin!!! Akhirnya setelah melihat-lihat resep selama beberapa hari, ikan ini berakhir sebagai campuran pasta. Dan rasa asinnya benar-benar sulit dinetralisir. Ini pengalaman pertama memasak menggunakan anchovy. Mungkin nanti bisa menemukan resep yang lebih baik. Biarpun rasanya sayang juga membeli anchovy sekaleng kecil dengan harga hampir 40 ribu!
Begitu banyak resep yang menyertakan anchovy sebagai ingredient atau bahan makanan. Sampai bertanya-tanya, emang kalau ga pake ikan ini rasanya beda ya? Berbulan-bulan saya berburu bahan ini. Tapi hampir tidak ada di supermarket lokal. Bahkan di supermarket yang menjual bahan impor saja tidak ada. Keburu habis. Akhirnya bertemulah saya dengan bahan ini. Tersembunyi di sebuah rak supermarket yang nyaris tak terjamah. Harganya lumayan mahal. Apalagi kalau dibandingkan dengan ikan asin di sini. Bagaikan bumi dan langit.
Maka sesampainya di rumah saya biarkan kaleng anchovy itu tergeletak di rak. Bingung, mau dimasak apa ya? Di dalam kaleng itu, ikan anchovy direndam minyak zaitung. Iseng-iseng saya coba cicipi. Alamak... asin!!! Akhirnya setelah melihat-lihat resep selama beberapa hari, ikan ini berakhir sebagai campuran pasta. Dan rasa asinnya benar-benar sulit dinetralisir. Ini pengalaman pertama memasak menggunakan anchovy. Mungkin nanti bisa menemukan resep yang lebih baik. Biarpun rasanya sayang juga membeli anchovy sekaleng kecil dengan harga hampir 40 ribu!
Saturday, October 16, 2010
Delicious Broccoli
Nggak suka brokoli? Bisa jadi. Aku sih nggak ada masalah sama sayuran yang satu ini. Memang sih, kadang-kadang aromanya agak mengganggu di dapur. Tapi kalau soal rasa, no problemo lah. Asik-asik aja. Tapi, pada suatu hari, aku pernah menumis si hijau ini, dan aromanya di piring saji kok agak mengurangi selera makan, mirip-mirip bau gas elpiji. Rasanya di lidah juga sedikit langu. Mungkin saking segernya jadi brokoli itu mengeluarkan aroma yang tajam. Mestinya sih bagus-bagus aja. Sayuran semakin segar, kan semakin bagus. Cuman, kalau selera makan lagi nggak tinggi, lumayan mengganggu nih.
Akhirnya memang selama beberapa waktu aku berhenti mengonsumsi brokoli. Bukan kapok sih, tapi jeda dulu lah, karena aku termasuk sering masak sayuran ini. Tapi jujur aja, cara masaknya itu-itu aja, tumis dan tumis lagi. Kalau lagi rajin dibikin salad, dikombinasi sama sayuran yang lain. Tapi kalau lagi malas... tumis lagi, tumis lagi. Bosen ah! Belum lagi aroma elpiji dan rasa langunya masih terbayang-bayang. Lama-kelamaan kangen juga sama brokoli. Apalagi katanya bisa jadi antikanker lho!
Setelah sering liat tayangan acara masak-memasak di televisi, aku baru ngeh kalau brokoli ternyata bisa dimasak macam-macam. Salah satu cara jitu untuk mengalahkan aroma dan langunya adalah dimasak pakai bumbu masala ala India. Cara lain untuk mengolah brokoli biar jadi makanan yang enak adalah dicampur pasta, goreng tepung kayak tempura, dan banyak lagi cara lain. Tapi akhirnya aku nemu cara singkat untuk mengolah biar jadi enak dan terutama digemari anak-anak: brokoli keju panggang. Sama sekali nggak ribet bikin makanan ini. No sweat, kata orang Amerika. Bahannya cuma brokoli, keju cheddar lembaran, garam, merica, minyak zaitun sedikit. Caranya: masukkan brokoli yang sudah dipotong-potong ke pinggan tahan panas. Lalu bumbui dengan minyak zaitun, merica dan garam sesuai selera, dan sampai merata. Letakkan keju cheddar lembaran di atasnya sampai seluruh permukaan brokoli tertutup keju. Panggang di oven selama 20-25 menit. Jadi deh! Yang tercium hanya aroma keju nan wangi...hmm....
Akhirnya memang selama beberapa waktu aku berhenti mengonsumsi brokoli. Bukan kapok sih, tapi jeda dulu lah, karena aku termasuk sering masak sayuran ini. Tapi jujur aja, cara masaknya itu-itu aja, tumis dan tumis lagi. Kalau lagi rajin dibikin salad, dikombinasi sama sayuran yang lain. Tapi kalau lagi malas... tumis lagi, tumis lagi. Bosen ah! Belum lagi aroma elpiji dan rasa langunya masih terbayang-bayang. Lama-kelamaan kangen juga sama brokoli. Apalagi katanya bisa jadi antikanker lho!
Setelah sering liat tayangan acara masak-memasak di televisi, aku baru ngeh kalau brokoli ternyata bisa dimasak macam-macam. Salah satu cara jitu untuk mengalahkan aroma dan langunya adalah dimasak pakai bumbu masala ala India. Cara lain untuk mengolah brokoli biar jadi makanan yang enak adalah dicampur pasta, goreng tepung kayak tempura, dan banyak lagi cara lain. Tapi akhirnya aku nemu cara singkat untuk mengolah biar jadi enak dan terutama digemari anak-anak: brokoli keju panggang. Sama sekali nggak ribet bikin makanan ini. No sweat, kata orang Amerika. Bahannya cuma brokoli, keju cheddar lembaran, garam, merica, minyak zaitun sedikit. Caranya: masukkan brokoli yang sudah dipotong-potong ke pinggan tahan panas. Lalu bumbui dengan minyak zaitun, merica dan garam sesuai selera, dan sampai merata. Letakkan keju cheddar lembaran di atasnya sampai seluruh permukaan brokoli tertutup keju. Panggang di oven selama 20-25 menit. Jadi deh! Yang tercium hanya aroma keju nan wangi...hmm....
Subscribe to:
Posts (Atom)





